December 2010
5 posts
2 tags
4 tags
Terima Sajalah Manis III
Bersusah-susah ke dokter bedah Hey sayang, Lacuna itu tak ada Iya Ngerti. Tapi rasanya otakku perlu dirakit lagi Otak atau hati? Otak. Kamu tidak pernah jatuh hati. Bersusah-susah ke tukang ramal Hey sayang, kalau terbukti lalu kenapa? Iya Ngerti. Tapi dulu aku suka yang tidak pasti-pasti. Lalu kini? Makin yakin. Semua yang pasti itu tidak pasti. ...
4 tags
Terima Sajalah Manis II
Ah, rumitnya, sayang Kamu salto, lompat ke kiri dua kali Berjalan satu kaki, lalu kayang Menari, sambung cengir tiga jari Ah, banyak cakap kau, kekasih Prolog, monolog, dialog, epilog Puisi, tiga lembar sudah, bagus sih Tiga jam orasi, lalu senyum goblog Ah, aku tau kau cerdas, darling Semua pertanyaan filosofis kau cacah habis Nyalakan televisi, debat bak...
4 tags
Terima Sajalah Manis I
Ini cerita tentang kata-kata Yang dibuang keluar jendela Ia mengira dirinya balon udara Warna-warna warna-warna Terbang saja lepas saja Begitu mengudara semua gembira Tapi bukan, ada-ada saja… Ini cerita tentang kata-kata Yang dibuang keluar jendela Ia mengira dirinya sedap aroma Dari periuk nasi tanak bersahaja Menguap saja lepas saja Begitu terbaui...
5 tags
The Face is A Mask
So have I told you already that every time I survived rush hour in Hanoi my chest’s always hurting from unbearable pride? Right. Hanoi traffic is rad. I survived yet another rush hour today, went back home with another hurting chest, mostly because there was a huge ass construction mess near my working place, couldn’t stop coughing because of the dust.
Then it’s decided. I need...